Pemberian Nama Marta Kepada Keluarga Presiden

jokowi marga
Anggota kelompok budaya Mandailing di Sumatera Utara telah sepakat untuk memberikan Presiden Joko “Jokowi” Widodo seorang marga (nama keluarga) menyusul pernikahan putrinya Kahiyang Ayu kepada Muhammad Bobby Afif Nasution. Berbicara setelah upacara tradisional untuk memberi Kahiyang marga “Siregar” di Medan, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, yang menjadi perwakilan tokoh masyarakat Mandailing dan keluarga Bobby, mengatakan bahwa semua pihak setuju untuk memberikan Presiden sebuah marga. Namun, karena Jokowi adalah tokoh tingkat tinggi dan kepala negara, sebuah upacara tradisional khusus akan diminta memberinya nama keluarga Mandailing.

“Semua setuju, tapi kita perlu mencari waktu lain,” kata Darmin Dia mengatakan bahwa sangat disarankan agar orang dan keluarga orang-orang yang mengikat simpul dengan seseorang dari kelompok budaya Mandailing diberikan marga tertentu. Kahiyang, yang menikahi Bobby dalam sebuah upacara pernikahan di Surakarta, Jawa Tengah pada 8 November, secara resmi memberikan marganya pada hari Selasa. Pengantin diprakarsai untuk berpartisipasi dalam serangkaian upacara tradisional Mandailing yang akan dipuncak dalam sebuah resepsi pada 26 November di Medan.
Setelah menerima “Siregar” sebagai nama keluarga, putri Presiden diberi gelar biasa pada upacara adat berikutnya yang dijadwalkan pada hari Sabtu, 25 November, kata Darmin. Dia menambahkan bahwa seseorang yang menerima marga dan gelar biasa akan mendapatkan posisi dalam kelompok budaya Mandailing.

Analisis Golkar Dukung Jokowi

Dukungan Golkar untuk Presiden Joko “Jokowi” Widodo kemungkinan akan dipertaruhkan saat partai tersebut dilaporkan menyiapkan sebuah kongres untuk menanggapi tekanan yang meningkat dari anggota partai yang meminta sebuah pemilihan untuk menggantikan Setya Novanto, ketua partai yang telah diberi nama tersangka korupsi. Direktur Eksekutif Riset dan Konsultasi Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago mengatakan pada hari Minggu bahwa dinamika politik di Golkar kemungkinan akan menjadi lebih cair jika partai tersebut mengadakan kongres, yang berarti bahwa setiap politisi yang terpilih dapat menjadi seseorang yang tidak bersedia bergabung dalam koalisi pemerintah.

Pangi mengatakan bahwa faksi-faksi di dalam partai tetap ada, walaupun perpecahan internal yang telah meletus pada tahun 2015 telah diselesaikan melalui pemilihan Setya, yang kemudian dianggap sebagai kandidat netral. “Kami tidak yakin apakah Golkar akan terus mendukung Jokowi. Pimpinan partai dapat dimenangkan oleh anggota fraksi Aburizal, “kata Pangi kepada The Jakarta Post, merujuk pada pengusaha Aburizal Bakrie, yang pada tahun 2015 memimpin sebuah faksi melawan politisi Agung Laksono, yang mendukung Jokowi.

Pada tahun itu, tidak seperti Agung, Aburizal cenderung berpihak pada oposisi pemerintah, yang dipimpin oleh Partai Gerindra. “Salah satu fraksi pasti akan mengusulkan kandidat mereka [di kongres],” kata Pangi. Wakil Sekjen Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan pada hari Minggu bahwa anggota eksekutif partai tersebut akan mengadakan sebuah pertemuan pada hari Selasa untuk menanggapi masalah seputar kasus Setya, termasuk apakah akan mengadakan kongres untuk memilih pemimpin baru seperti yang diminta oleh beberapa anggota partai.